01 Oktober 2009

W.S. Rendra

"Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala.
Dan perjuangan
adalah pelaksanaan kata-kata."
(W.S Rendra, 1984)

Sajak Rajawali

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

03 September 2009

IDEALNYA SEORANG PEMUDA

IDEALNYA SEORANG PEMUDA
(Dikutip dari majalah Al-Intima, Spirit Kebangkitan Dakwah)

Ia pribadi yang Muslim
Berhati emas dan berpotensi prima
Yang di kala damai anggun
Petaka kijang dari padang perburuan
Yang di kala perang
Perkasa bak harimau kumbang

Ia perpaduan manisnya madu, pahitnya empedu
Satu kali dengan kawan, lain kali dengan lawan
Yang lembut dalam berbahasa
Yang teguh membawa suluh
Angannya sederhana, citanya mulia
Tinggi vitalitas dalam was-was
Tinggi Budi, rendah hati

Ia lah sutera halus ditengah sahabat tulus
Ia lah baja, ditentangnya musuh durhaka
Ia ibarat gerimis atau embun tiris
Yang memekarkan bunga-bunga
Yang melambaikan tangkai-tangkai
Ia juga topan beliung
Yang melemparkan ombak menggunung
Yang menggoncangkan laut ke relung-relung

Ia lah gemercik air di taman sari, asri
Ia juga penumpang segala belantara, segala sahara
Ia lah pertautan agung
Iman Abu Bakar, Perkasa Ali
Papa Abu Dzar, Teguhnya Salman

Mandirinya ditengah masa yang bergoyang
Ibarat lentera ulama ditengah gulita sahara
Ia pilih Syahid Fi Sabilillah
Atas segala kursi dan upeti
Ia menuju bintang, menggapai malaikat
Ia tentang tindak kufur, pola aniaya, dimana saja

Maka nilainya pun membumbung tinggi
harganya semakin tak terperi
Maka siapakah yang sanggup membelinya???
Kecuali Rabbnya

14 Agustus 2009

RESENSI NOVEL IMPERIUM

RESENSI BUKU IMPERIUM
Oleh : Dea Tantyo Iskandar

Judul buku : IMPERIUM
Penulis : Robert Harris
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 413 halaman

“Novel politik yang diseret dengan teliti. Dengan latar belakang era paling menentukan dalam sejarah Romawi Kuno” – NEWSDAY

Kalaulah ada sebuah buku yang mengisahkan pembelajaran politik yang jenius dan dikemas melalui sebuah karya sastra, maka tak berlebihan rasanya saya menempatkan IMPERIUM pada jajaran paling atas. Ya, IMPERIUM, sebuah novel cerdas yang berhasil merangkai nilai-nilai politik, sejarah, dan sosial menjadi satu pola sastra yang hangat dan memukau.

Novel ini menceritakan kisah hidup seorang Romawi yang dikemudian hari menyejarah namanya menjadi orang No.1 di Republik tersebut: Marcus Tullius Cicero. Seorang negarawan, senator, sekaligus orator brilian yang pernah dimiliki Roma.

Satu hal yang menarik dalam kisah Cicero adalah bagaimana untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Roma, jabatan tertinggi Imperium – kekuasaan tertinggi yang dimandatkan negara, diperoleh oleh seseorang yang tidak memiliki garis keturunan aristokrat. From zero to hero, tanpa dukungan dana yang besar dan melimpah, tanpa memiliki armada perang yang perkasa dan digdaya, tanpa garis generasi aristokrasi, Cicero memperoleh semuanya murni hanya karena bakat yang ia miliki : strategi politik yang disandarkan melalui kemahirannya dalam berorasi dan beretorika.

Adapun novel ini merupakan pengemasan ulang kumpulan tulisan Tiro M. Tullius seorang sekretaris pribadi yang menghabiskan masa bakti kepada Cicero sepanjang hidupnya. Sebelum akhir hayatnya Tiro menulis sejarah hidup sang majikan dalam membangun kekuasaan (imperium) di negeri Roma. Dalam sebuah pernyataannya Tiro pernah berkata,

“Sepanjang beberapa dasawarsa setelah kematiannya, aku sering ditanya seperti apa Cicero sebenarnya, tapi aku selalu berdiam diri. Bagaimana aku tahu siapa yang mata-mata pemerintah dan siapa yang bukan? Namun karena hidupku sudah mendekati ajal kuputuskan untuk mengajukan karya ini sebagai jawabanku.”

Novel IMPERIUM ditulis oleh seorang berkebangsaan Inggris, penulis internasional - No.1 International Bestselling Author: Robert Harris. Meskipun imperium adalah sebuah novel yang dikemas ulang melalu gaya penulisan kisah serta dibumbui dengan diskusi tokoh di dalamnya, sebagian besar peristiwa yang digambarkan adalah fakta sejarah yang pernah terjadi. Hal ini ditekankan oleh penulis dalam catatan akhirnya. Bahwa Tiro pernah menuliskan kehidupan Cicero telah dibuktikan oleh Plutarch dan Asconius. Adapun referensi yang semakin menguatkan novel sejarah ini sebagai sebuah karya yang berdasarkan kisah nyata adalah 29 jilid pidato dan surat Cicero yang dihimpun oleh Loeb Classical Library dan diterbitkan oleh Harvard University Press. Adapun referensi yang lainnya adalah The Magistrates of The Roman Republic, Volume II, karya T. Robert S. Broughton, terbitan American Philogical Association, serta Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology, Dictionary of Greek and Roman Antiquities, dan Dictionary of Greek and Roman Geography yang disunting oleh Sir William Smith (1813-93).

Bagi saya sendiri IMPERIUM adalah salah satu novel terbaik yang pernah ada, atau minimal yang pernah saya baca. Ketika membacanya saya seakan dipaksa untuk larut sebagai saksi hidup peristiwa di dalamnya. Dan jujur saja, setelah selesai membacanya, saya disergap kerinduan untuk sekedar membalik-balikan kembali halaman novel ini untuk lagi dan lagi membacanya.

Mengapa demikian? Betapa tidak, dari novel ini kita akan disadarkan tentang arti penting usaha dan kerja-kerja nyata demi meraih pencapaian yang telah kita canangkan. Marcus Cicero, membuktikan dengan tegas betapa keterbatasan bukanlah hambatan untuk menciptakan sebuah karya besar dan meraih pencapaian yang memesona dalam hidup. Ah, rasanya inilah buku terbaik diluar buku keislaman yang pernah saya baca. Jenius dan memukau. Excellent!

“Kata – kata terakhir Cicero kepadaku adalah Permintaan
agar aku menyampaikan kebenaran tentang dirinya,
dan inilah yang akan kuupayakan...
maka tentang kekuasaan serta dirinyalah
aku akan berdendang.”

(Tirro, M. Tullius, sekretaris sekaligus juru tulis sang orator Marcus Cicero)

10 Agustus 2009

SEJENAK RAMADHAN

“Wahai orang yang selalu mencari dan beramal kebaikan bergembiralah. Wahai orang yang mencari dan berbuat amal keburukan berhentilah. Seruan ini terus di dengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (HR Ahmad dan Nasa’i)

Ah, telah sampai batas mana usia kita hari ini?
Telah seberapa banyak dosa yang kita lakukan hingga hari ini?


Duduklah disini saudaraku. Menghela nafas panjang. Diam. Nikmatilah saat kita melewati detik-detik penantian. Hanyutkan rasa dan pikiran kita untuk menerima kedatangan tamu agung. Ingatlah bagaimana langkah demi langkah perjalanan usia kita. Renugi tahap demi tahap waktu hidup yang telah kita lewati.

Sekarang, kita akan memasuki kembali sebuah bulan yang tak ternilai kemuliaannya. Sebuah bulan yang tak terbayar mahalnya oleh usia kita sendiri. Oh, samapi batas mana usia kita ada disini? 20 tahun, 40 tahun, 80 tahun? Sementara satu malam di bulan mulia itu, bernilai lebih dari kebaikan sepanjang 83 tahun.Khairun min alfi syahr, lebih baik dari seribu bulan.

Di bulan ini tersemai berkah, rahmat, dan maghfirah. Nafas-nafas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal-amal baik dilipatgandakan, dan doa-doa terijabah.

“Barangsiapa melakukan puasa di bulan Ramadhan, disertai iman, dan ingin memperoleh keridhoan Allah, dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR Bukhairi)

Mari saudaraku,
ini adalah masa-masa kita melakukan pemanasan untuk berlomba memperoleh berkah dan rahmat bulan Ramadhan. Bersiaplah untuk menyedikitkan waktu tidur. Bersiaplah untuk lebih banyak mengeluarkan shadaqah. Bersiap untuk berdiri berlama-lama menunaikan shalat-shalat fardu & sunnah. Bersiap menggiatkan bacaan Al Quran. Bersiap untuk bertahan tidak melanggar larangan-larangan Allah.

Saudaraku, seandainya Allah memanjangkan umur kita nanti, mari tanamkan rasa bahwa ini Ramadhan terakhir kita. Dan segera hijrahkan. Segera hijrahkan hati kita, untuk sejenak beriman dan memperbaiki.

“Dua hal yang kusesali. Hari-hari yang panas tanpa kesejukan puasa. Malam-malam yang dingin tanpa kehangatan shalat.”
(‘Abdulllah ibn ‘Umar, RA)

Sumber :
Ringkasan Shahih Muslim, Mencari Mutiara di Dasar Hati, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim

09 Agustus 2009

BNI : Inspirasi Pendidikan dan Kebangkitan Bangsa

Pendidikan dan kehidupan bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki makna yang saling melengkapi. Sebagaimana yang disampaikan Prof. Proopert Lodge,

“Life is education, and Education is Life”.

Betapa penting makna pendidikan dalam kehidupan. Bermula dari keluarga hingga maju dan mundurnya suatu bangsa dapat terlihat dari seberapa tinggi dan meluas tingkat pendidikan yang diterapkan. Sejarah mencatat, kebangkitan suatu bangsa selalu ditandai dengan lahirnya masyarakat yang terdidik. Jepang & Jerman yang pernah luluh lantak akibat Perang Dunia II, bangkit dari keterpurukan dengan jalan pendidikan. Bangsa inipun-Indonesia, memulai perjuangan kemerdekaannya melalui ranah pendidikan.

Menatap hadirnya keterbukaaan dalam globalisasi, menjadikan peran pendidikan semakin vital sebagai penentu majunya sebuah negara. Pendidikan adalah kunci yang memotivasi bangsa untuk mengkreasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat meningkatkan daya saing bangsa di tataran dunia. Semakin tinggi pendidikan yang diberdayakan suatu negara, semakin tinggi pula daya saing yang dimiliki. Begitu juga sebaliknya.

Ditarik ke ranah bumi pertiwi hari ini, betapa memperihatinkan menelisik pendidikan di Indonesia. Di negeri ini, pendidikan belum sepenuhnya merata dirasakan seluruh masyarakat. Ketimpangan inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab menunduknya posisi Indonesia di level internasional. Namun begitu,

jauh lebih baik menyalakan lilin, daripada mengutuk kegelapan.

Kondisi carut marut pendidikan ini tentu harus segera disudahi.Bangsa ini butuh sebuah inspirasi yang mampu memotivasi kebangkitan dalam bidang pendidikan.

Hal inilah yang kemudian di tangkap dengan cermat oleh Bank Negara Indonesia (BNI). Terkait hal ini, BNI menggulirkan program nyata untuk meningkatkan mutu pendidikan masyarakat Indonesia melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang diberdayakan BNI di ranah pendidikan. Setiap tahun misalnya, BNI memberikan beasiswa bagi siswa tingkat dasar dan mahasiswa unggulan di beberapa universitas. Sebuah program yang memberikan pengaruh signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Program itu digenapi dengan penerbitan dan pendistribusian Buku Direktori Beasiswa, yang memberikan informasi penting beasiswa perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Program tersebut tentu sangat membantu masyarakat untuk memiiliki kesempatan dalam mengenyam pendidikan yang semakin tinggi. Sebuah solusi kongkrit bagi permasalahan pendidikan yang dialami bangsa saat ini.

Di sisi lain, sejalan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan, BNI juga memberikan bantuan pembangunan/renovasi gedung-gedung sekolah, kampus dan gedung pelatihan, juga penyediaan sarana dan prasarana fisik seperti buku dan alat tulis. Selain itu, BNI juga memberikan program-program edukasi khusus bagi semua kalangan, perbaikan/pembangunan ruang perpustakaan, pengadaan perpustakaan keliling, pembentukan taman bacaan dan pengadaan buku-buku bacaan, semua demi penyebaran dan peningkatan mutu serta kesempatan pendidikan bagi masyarakat Indonesia.

Tidak sampai disitu, masalah tingginya tingkat pengangguran di Indonesia sebagai efek rendahnya iklim wirausaha, dijawab BNI melalui Program Pojok BNI yang merupakan program penyediaan fasilitas pusat informasi dan pelatihan kewirausahaan mahasiswa. Program positif untuk merangsang mahasiswa menjadi wirausaha muda yang pada gilirannya dapat membuka lapangan kerja dan menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia. Sebuah stimulus berharga bagi peningkatan pendidikan dan perekonomian Indonesia. Ah, belum selesai, BNI juga turut memberikan apresiasi kepada para guru berprestasi dan para pemenang olimpiade SAINS Nasional. Penghargaan yang semakin menginspirasi masyarakat Indonesia khususnya para pendidik dan pelajar untuk senantiasa terpacu dalam berprestasi.

Semua program yang digulirkan BNI tentu secara langsung memberikan efek luar biasa bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. Tidak dipungkiri lagi, adanya program-program tersebut meniscayakan lahirnya inspirasi besar bagi peningkatan nilai sumber daya manusia serta bangkitnya daya saing Indonesia di masa yang akan datang. Maka tidak salah jika BNI meraih penghargaan Millenium Development Goals (MDGs) Award pada kategori Pencapaian Pendidikan Dasar untuk Semua. Penghargaan bergengsi yang diberikan oleh PBB Perwakilan Khusus untuk MDGs di Asia Pacific yang membuat penilaian terhadap kegiatan CSR perusahaan dan pemerintah kota yang berperan membawa perubahan & peningkatan kualitas bangsa Indonesia.

Semua hal diatas akhirnya semakin meneguhkan BNI sebagai bagian inspirator kebangkitan Indonesia. Bangsa ini berhak maju dan berdiri dengan kepala tegak di tataran dunia. Melesatkan kata benda menuju kata kerja, BNI menanamkan keyakinan itu, bahwa harapan bangkit itu selalu ada. Maju terus BNI, terus berkontribusi dan menebar inspirasi bagi bangsa, bagi masyarakat Indonesia.


Dea Tantyo Iskandar
Email : tantyo_manutd
FB : orang.mars@gmail.com

17 Juli 2009

KAMU NGGAK SENDIRIAN

Bila ku tak disini
Tetaplah kau bernyanyi
Dan bila ku tlah pergi
Kenanglah yang terjadi

Pastikan padaku bahwa kamu
Kan baik-baik saja
Karna disetiap mimpiku
Pasti slalu ada kamu

Dengarkan dan rasakan
Lagu yang kuciptakan untukmu
Walau mungkin terdengar gak merdu
Tapi hanya untukmu

Kita pernah bersama disini
Lalui hari penuh warna warni
Meski tak seindah pelangi
Tapi kita pernah bermimpi

Percayalah padaku
Meski digelap malam
Kamu ngga sendirian
Dan semua bintang yang kutinggalkan
Temani kau sampai akhir malam

Mungkin ini hanya sementara
Mungkin juga untuk selamanya
Tapi nanti jika kukembali
Kau harus ada disini

Percayalah padaku
Meski digelap malam
Kamu ngga sendirian
Dan semua bintang yang kutinggalkan
Temani kau sampai akhir malam

Download mp3 & lirik lagu Tipe-X / Kamu Nggak Sendirian
Free Download MP3

13 Juli 2009

POLITIK : Jabatan - Kekuasaan?

POLITIK : JABATAN DAN KEKUASAAN?
Oleh : Dea Tantyo Iskandar

"Politik adalah sejarah yang bersayap, ia -terekam jelas dalam panggung sejarah- mampu membangkitkan semua sifat termulia dalam jiwa manusia, sekaligus membangunkan semua sifat manusia yang terhina."
(Marcus Cicero, orator brilian Romawi)

Politik. Banyak orang yang tentu tidak asing lagi mendengar istilah ini. Berbagai rupa definisi dari banyak tokoh dengan asal muasal yang berbeda dalam ratusan bahkan ribuan literatur banyak membahas tentang hal ini. Bagi kita sendiri, mungkin saja politik memiliki sayap-sayap konotasi. Ada yang menganggapnya baik, ada pula yang menganggapnya buruk. Sebagian menganggap perlu, yang lain mengaggapnya membosankan. Sebagian menganggap kotor, yang lain menganggap jantungnya kehidupan. Mereka menganggap lumpur, mungkin saja kita menganggapnya bunga. Entah bunga melati, atau sekedar bunga tidur bisa jadi. Sebagian mencemooh, tapi lebih banyak lagi, orang yang memperebutkan. Komoditas ini tampak populer karena ia sering disalahkaprahi sebatas jabatan-kekuasaan. Dimana setiap orang, bagaimanapun kondisinya, mengklaim berhak mendapatkannya.

Pada suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari meminta kepada Rasulullah SAW agar diangkat menjadi pejabat. Tapi, Nabi SAW menolaknya. Sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, kepadanya Nabi SAW berkata, ''Tidak, Abu Dzar, engkau orang lemah. Ketahuilah, jabatan itu amanah. Ia kelak di hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan benar dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar pula.'' (HR Bukhari). Sebuah pelajaran menarik yang menuntut kita untuk menganalisis lebih jauh tentang kelayakan seseorang dalam mengemban sebuah jabatan.

Imam Nawawi menatap hal ini dalam dua kutub, pertama bahwa politik dapat menjadi sumber petaka bagi orang yang tidak mampu dan tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, yang kedua, menurut beliau, politik dapat pula menjadi ladang pengabdian dan amal saleh yang subur bagi orang yang mampu dan bertanggung jawab. Ia ibarat pisau bermata dua; bisa baik dan buruk.

Marcus Cicero, salah satu negarawan dan orator brilian Romawi, pernah berkata bahwa politik adalah sejarah yang bersayap, ia -terekam jelas dalam panggung sejarah- mampu membangkitkan semua sifat termulia dalam jiwa manusia, sekaligus membangunkan semua sifat manusia yang terhina. Karena seringkali dalam ranah politik, sistem dan kolektivitas manusia mempengaruhi pola tendensi gerak, lagi-lagi ; baik atau buruk.
Hal ini menjadi sebuah catatan bahwa politik dalam kemasan jabatan dan kekuasaan tentunya membawa output yang berdampak pada dua kemungkinan. Ia akan berbuah baik dan manis ketika :

1. Berada di tangan orang yang tepat (capable),
2. Diperoleh dengan cara yang benar (acceptable),
3. Dipergunakan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat (responsible).

Dan sebaliknya, ketika ia disematkan kepada tangan yang salah dan tidak amanah, niscaya ia akan berbuah kehancuran. Senada dengan sebuah hadith dimana Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Sahabat bertanya: bagaimana menyia-nyiakannya Ya Rasulullah? Beliau menjawab : Apabila suatu jabatan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. (HR. Bukhari)

Kehancuran itu tentu tidak hanya berlaku bagi mereka yang dibawahi (umat), tapi yang lebih utama, kehancuran bagi mereka para pengemban kekuasaan yang dholim dan tidak amanah.

“Jangan sekali-kali berbuat dholim, jika kamu diberi kekuasaan” kata Ali bin Abi Thalib R.A, “karena kedholiman adalah sumber kejahatan yang menyebabkan penyesalan. Boleh jadi matamu tertidur pulas, sedangkan mata orang teraniaya selalu terjaga, mendoakan kamu (dengan keburukan) sedangkan Allah tidak pernah tertidur.”

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas tentang ketepatan makna hakiki politik. Pun bukan untuk menyimpulkan satu pendefinisian beserta derivat-derivat yang benar tentang politik. Bukan itu, karena tulisan ini tentu jauh dari ideal untuk membahas materi politik secara komperehensif. Adapun, pembahasan ini hanyalah sebuah wacana sederhana yang diniatkan sebatas pengingat, bahwa politik, yang dinisbatkan dengan jabatan-kekuasaan sejatinya senantiasa membawa efek dan konsekuensi. Politik terlalu luas untuk dipahami sebatas otoritas tahta atau bahkan dinilai hanya sebagai sebuah komoditas ‘murah’ yang dengan bebas diperjualbelikan. Tapi lebih dari itu, ia merupakan sesuatu yang sepatutnya diemban oleh mereka yang bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab dalam menjalankannya. Karena sepakatlah kita bahwa ia-lah amanah, amanah besar yang kelak pasti dipertanggungjawabkan.

Semoga Allah berkenan meneguhkan kita untuk senantiasa bertanggung jawab dalam menuntaskan setiap amanah yang kita emban. Karena pada hakikatnya amanah tidak lain adalah kesempatan yang diberikan untuk membangun sebuah panggung pembuktian. Sebuah pembuktian tentang eksistensi dan kualitas kita sebagai manusia pilihan.
Akhirnya tentang ini Rasul mulia pernah bersabda,

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung".

Ah, betapa berat kekuasaan. Terutama bagi mereka yang menyiakan amanah. Lalu serugi itukah mereka yang memperoleh kekuasaan? Tidak seluruhnya. Bagi orang-orang yang amanah dan berjuang dalam al haq, Rasullullah melanjutkan...

"...kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan cara hak serta menunaikan kewajiban yang terpikul di atas bahunya”. (HR Muslim)

Ya Allah jangan Kau kurangi beban dari pundakku, tapi berikan saja pundak yang lebih besar untukku.